Evaluasi proses Produksi Video Pendek

Bab 18

A. Fasilitas Pembuatan Film Cerita Pendek

Pada dasarnya pembahasan sebelumnya kita telah memahami proses produksi video pendek. Setelah sebuah produk video pendek itu jadi, selanjutnya kita perlu melakukan evaluasi terhadap hasil proses produksi pendek tersebut

  1. Dasar Pemikiran

Pada dasarnya film dapat dimaknai atau dilihat memiliki fungsi sebagai berikut:

a. Sebagai media ekspresi seni

b. Sebagai media komunikasi

c. Sebagai media hiburan

Ketiga hal diatas secara umum dapat digunakan untuk membuat aacuan penilain sebua film. Dengan kata lain, sebuah film yang baik haruslah memiliki bobot sesuai tiga fungsi film di atas. Tidak berarti ketiganya harus tercukupi dalam sebuah film, karena belum tentu sebuah film dibuat dengan menjadikan ketiga hal diatas sebagai tujuannya, namun paling tidak salah satu diantaranya akan menjadi landasan bagi produksi sebuah film.

Film cerita pendek, misalnya, semata-mata dibuat tidak dengan tujuan menghibur belaka. Sebuah film hiburan bis pula berisi informasi yang berguna sekligus sarat nuansa ekspresi seni pembuatannya. Ada banyak contoh film cerita pendek yang berkat kepiawaian dan kereaatifitas pembuatannya mampu memberikan nili yang lebih dari sekedar hiburan, penonton juga turut memperolehh pengeetahuan dan pemaknaan baru tentang kehidupan.

Dengan mendasarkan pada pandangan bawa film merupakan salah satu cabang seni, maka kita secara umum, penilaian terhadap karya seni mencakup dua unsur yang melekat dalam setiap karya seni, unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur-unsur intrinsik sebuah film yang perlu mendapat perhatian di antaranya penyutradaraan, skenario, editing, tata artistik, tata musik, dan pemeranan. Sedangkan unsur ekstrinsik atau unsur progresif sebuah film yang perlu mendapat perhatian adalah muatan ide-ide yang ditawarkan pembuatannya (subyektifitas sineas) maupun gambaran budaya yang terefleksi dalam film. Keseimbangan dalam menilai kedua insur tersebut, baik intrinsik dan ekstrinsik, akan membuat pandangan terhadap film teidak terjebak pada pengertian “seni untuk seni” (Marselli Sumarno, 1996). Film akan mampu dilihat sebagai karta ekspresi kebudayaan hasil eksplorasi dan pergumulan terhadap kehidupan manusia, bukan sekedar media hiburan dan barang dagangan atau seni semata.

  1. Prosedur Pendekatan Film

Secara umum, penilaian terhadap sebuah film dengan mempertimbangkan keseimbangan unsur intrinsik dan ekstrinsik adalah sebagai berikut:

a. Persoalan tema dan maksud/tujuan pembuatannya. Dengan kata lain, apa yang ingin dikatakan/disampaikan sutradara kepada penontonnya

b. Persoalan terkait peran setiap unsur yang membangun film (unsur intrinsik) dalam mewujudkan filmnya, bagaimana peran/kontribusi setiap unsur terhadap tema, tujuan dibutnya film, atau terhadap keseluruhan proses produksi.

c. Menimbang dengan teliti maksud dibuatnya sebuah film terkait dengan 3 fungsi film yang telah disebutkan sebelumnya. Sebuah film yang bertujuan untuk menghibur tentu tidak tepat diukur dengan kreteria mengukur film ekspresi (film seni/art film) atau informatif (dokumenter).

d. Evaluasi obyektif terkait keberhasilan filmnya sesuai poin 3 diatas (bila film hiburan, apakah film tersebut menghibur).

e. Penilaian subyektif penilai /juri terkait dengan maksud penyelenggaraan kompetisi ini. Apakah film yang dinilai sesuai dengan kreteria yang diinginkan penyelenggara atau tidak. (Hal ini terkait dengan pedoman/petunjuk teknis fasilitasi produksi film pendek yang menyebutkan dalam salah satu ketentuan umum. Film cerita pendek adalah film yang memiliki kandungan nilai budaya, kearifan lokal dan pembangunan karakter bangsa yang memiliki durasi tayang 30 menit)

Pedoman bagi penerapan kelima prosedur diatas, pandangan dasar terhadap film cerita dan film dokumenter berikut ini dapat dijadikan pertimbangan penilaiaan khususnya bagi perimmbangan kriteria pencapaian artistik film.

Film cerita pendek dapat diartikansebagai pengutaraan ide atau cerita dengan bantuan rangkaian gambar, gerak serta suara. Cerita merupakan pembungkus atau kemasn bagi realitas rekaan yang merupakan sebuah alternatif dari realitas nyata. Ide dan maksud yang ingin disampaikan pembuatnya disampaikan melalui bungkus sebuah kisah dan bersifat persuasif. Dengan demikian, cerita rekaan hanyalah alat yang digunakan (symbol) untuk menyampaikan maksud yang sesungguhnya. Oleh karena itu pilihan penyajiannya menjadi sangat terbuka melalui beragam genre, misalnya drama, horror, film aksi, dan sebagainnya. Kecenderungan film cerita dibuat dengan tujuan menghibur.

B. Kreteria Penilaian Film Cerita Pendek

Berdasarkan pemahaman terhadap prosedur pendekatan penilaian film dan mengacu pada petunjuk teknis fasilitas pembuatan film cerita pendek, maka penilaian film cerita pendek, adalah sebagai berikut:

  1. Seleksi Administrasi
  2. Seleksi Teknis Naskah

Leave a Comment

Your email address will not be published.